Irsyad Rafsadie

catatan · penelitian · terjemahan

Hate Spin

Cherian George, Hate Spin: The Manufacture of Religious Offense and Its Threat to Democracy, (Massachusetts: MIT Press, 2016) 328 hlm., ISBN 9780262035309.

Blog
Ulasan

Bahan diskusi buku di Gedung TEMPO, Selasa, 2 Mei 2017,

Buku ini bertolak dari kegelisahan Cherian George melihat naiknya ancaman intoleransi keagamaan terhadap kebebasan berekspresi dan kurangnya kejelasan konseptual dalam menghadapi tantangan tersebut. Dia melihat orang tergerak melakukan kekerasan karena ujaran kebencian tapi juga sebaliknya, karena tersinggung oleh suatu ujaran. Penulis Freedom from the Press ini kemudian mengajukan konsep baru bernama hate spin, menjabarkan beberapa seginya dan mengusulkan beberapa langkah penanganannya.

Hate spin menggabungkan konsep hate speech atau hasutan kebencian yang sudah lebih dikenal dengan kemarahan karena ketersinggungan yang belum terlalu dikenal. George menunjukkan bagaimana dua-sisi hate spin inihasutan dan keterhasutandigunakan oleh entrepreneur politik untuk memobilisasi pendukung dan menyerang kelompok sasaran, dengan membandingkan kasus Amerika Serikat, Indonesia, dan India.

Hasutan (vilification/ offence-giving) atau ujaran kebencian menggerakkan orang agar memusuhi dan melukai kelompok lain. Dia menyasar kelompok rentan berdasarkan identitas bawaannya, seperti etnis, agama, orientasi seksual, dsb. Dampaknya bermacam-macam, mulai dari diskriminasi, kekerasan sampai yang paling parah genosida. Dalam hal ini dia menilai jika sudah terang-terangan memicu kekerasan, maka ujaran bisa dilarang.

Sementara itu, keterhasutan (indignation/offence-taking) mengobarkan kemarahan dan ketersinggungan untuk menggerakkan kawan dan menyasar lawan. Kekerasan yang ditimbulkannya adalah reaksi terhadap yang dipersepsi sebagai penghinaan/penistaan. Bedanya, George menilai yang ini sulit dilarang karena selain sangat subjektif, aturannya seringkali disalahgunakan kelompok intoleran. Dampaknya malah bisa membungkam kelompok minoritas yang justru sudah tertindas.

George tidak puas dengan penjelasan dan pemberitaan selama ini yang menggambarkan kemarahan dan ketersinggungan massa sebagai tindakan spontan dan semata-mata digerakkan ajaran agama. Pertanyaan dia, jika demikian, mengapa kemarahan itu hanya terjadi di tempat dan waktu tertentu saja? Dia berargumen bahwa hate spin digulirkan oleh provokator atau perantara yang mengambil untung dari mobilisasi kebencian dan kewaswasan. Mereka mengidentifikasi simbol-simbol yang berpotensi memantik kemarahan serta mencari waktu yang tepat untuk mencetuskannya.

Petunjuk paling jelas bahwa kemarahan itu digerakkan hate spin menurutnya adalah jeda waktu antara peristiwa ‘penghinaan/penistaan’ dengan reaksi terhadapnya. Seringkali suatu tindakan dianggap menyinggung dan menimbulkan kegemparan berbulan-bulan setelahnya, dan seringkali protesnya tiba-tiba padam tanpa juntrungan. Menurut George, yang berubah bukan muatan penghinaannya tetapi insentif untuk menyikapinya.

Untuk menutupi atau mengaburkan kepentingan politiknya, para agen hate spin menggunakan bahasa dan justifikasi agama yang sebenarnya banyak sekali ragam tafsirnya. Karena itu, George menekankan perlunya menyingkap kepentingan tersebut dengan menyikapi retorikanya sebagai framing biasa dan bahwa setiap agama juga menyediakan sumber-sumber yang mendukung toleransi dan saling menghormati.

George juga mewanti-wanti bahwa aturan hukum bisa membendung tapi juga menyuburkan hate spin. Untuk mencegahnya, hukum harus diarahkan untuk memerangi pelaku, bukan korban intoleransi; melindungi manusia, bukan melindungi lembaga; serta melindungi kelompok rentan, bukan kelompok dominan. Dalam hal ini, prinsip ICCPR menurutnya sudah cukup jelas bahwa ujaran kebencian yang menghasut orang untuk melukai mesti dilarang (pasal 20), sedangkan ujaran yang hanya menyinggung harus dilindungi sebagai bagian dari kebebasan berekspresi (pasal 19).

Sayangnya di banyak negara, termasuk Indonesia, yang terjadi malah sebaliknya. Hasutan yang terang-terangan menyerukan kekerasan dibiarkan tidak ditindak, tapi orang yang dianggap menghina atau menyinggung makin banyak yang dipidanakan. Padahal ketersinggungan itu direkayasa (manufacture of offence). Ini membuat kelompok minoritas semakin tertindas. Sudah menjadi korban sasaran ujaran kebencian, suara mereka dibungkam karena dianggap melukai perasaan kelompok dominan. Praktik tersebut dan pasal-pasal bermasalah yang semakin banyak digunakan di Indonesia kini membuat ketidakadilan semakin menjadi-jadi.

Karena itu George menekankan perlunya mencari alternatif lain dalam melawan hate spin. Dia mendorong politisi, masyarakat sipil dan media untuk berperan lebih banyak, misalnya dengan menggugat atau ‘mematikan’ peraturan yang bermasalah, menumbuhkan toleransi dan saling menghormati, serta memonitor dan menangkal hate spin di masyarakat. Buku terbaik 2016 versi Publishers Weekly ini memberikan kontribusi penting yang patut diperhatikan oleh siapa saja yang peduli dengan soal kebebasan berekspresi dan demokrasi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.