Irsyad Rafsadie

catatan · penelitian · terjemahan

Machiavelli dan Demokrasi Kita

William Liddle dkk., Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan, Ihsan Ali-Fauzi dan Samsu Rizal Panggabean (ed.) (Jakarta: Pusat Studi Agama dan Demokrasi [PUSAD], Yayasan Paramadina, 2012) ix + 171 halaman.

Blog
Ulasan

Artikel ini pertama Kali dimuat di Majalah Tempo, 30 Juni 2013

“Di mana-mana dewasa ini, demokrasi mengecewakan banyak orang.” Demikian R. William Liddle, ahli ilmu politik dan Indonesianis senior, mengawali kuliah umumnya pada Nurcholish Madjid Memorial Lecture (2011). Kuliah itu diberi judul kontroversial: “Marx atau Machiavelli? Menuju Demokrasi Bermutu di Indonesia dan Amerika.”

Keluhan Liddle bertolak dari hubungan paradoksal demokrasi dan kapitalisme: meski demokrasi tumbuh lebih subur di bawah kapitalisme, tapi salah satu akibat jangka-pendek kapitalisme adalah ketimpangan sumber daya ekonomi, yang juga memengaruhi kesehatan demokrasi. Pertanyaannya, bagaimana lingkaran setan ini diputus?

Buku ini bermula dari kuliah di atas. Selain kuliah Liddle, dimuat pula tujuh tanggapan atas kuliah itu dan tanggapan balik Liddle atas para komentatornya. Ini tradisi bagus, agar perdebatan terus berlanjut dan publik peroleh pencerahan.

Ketika menawarkan solusi, Liddle terang-terangan berpihak pada Machiavelli. Dia mengritik kalangan Marxis, yang dianggapnya hanya menawarkan “nasihat berkeluh-kesah” dan “menyuruh kita untuk membuang sang bayi, demokrasi, bersama bak mandinya, kapitalisme, sekalian” (hlm. 4).

Daripada berkeluh-kesah, Liddle menyarankan agar semua pendukung demokrasi berlaku sebagai full citizen, warganegara penuh. Sambil menyadari terbatasnya sumber daya, mereka harus mengembangkan dan menyebarluaskan berbagai macam sumber daya yang mungkin, agar ketimpangan pada sektor ini lama-lama bisa dipersempit.

Asumsinya, dengan menjadi warganegara penuh, kebersamaan bisa mengatasi keterbatasan sumber daya. Inilah yang mendasari kemenangan partai-partai buruh di sejumlah negara Eropa, karena demokrasi memperlakukan manusia secara setara, one man one vote, terlepas dari perbedaan sumber daya.

Liddle mengharapkan tumbuhnya warganegara sebagai agen yang bisa mengatasi struktur ketimpangan yang ada. Di sinilah dia mengambil inspirasi dari Machiavelli. Dengan membedakan virtù (ketrampilan) dan fortuna (nasib) dari Machiavelli, Liddle menandaskan: meski dibatasi sumber daya, seorang warganegara yang penuh, seorang agen, tidak terpenjara oleh keterbatasan sumber daya.

Untuk memperkuat argumennya, Liddle memaparkan berbagai teori dan fakta mengenai pentingnya agensi dalam perubahan sosial-politik, seperti yang dikembangkan Richard Neustadt, James Burns, John Kingdon, dan Richard Samuels. Pada bagian ini, sambil menguraikan berbagai contoh keberhasilan kepemimpinan yang diteorikan empat “anak cucu” Machiavelli itu, Liddle juga menyinggung kinerja para pemimpin Indonesia, dari Soeharto hingga Soesilo Bambang Yudhoyono, yang dinilainya sebagai pemimpin transaksional.

Selain itu, dalam jangka panjang, Liddle menekankan perlunya pola distribusi sumber daya ekonomi dan politik yang lebih merata. Di sini dia menyebut pentingnya pendekatan kemampuan yang dikembangkan Amartya Sen dan Martha Nussbaum.

Tanggapan atas Liddle beragam. Faisal Basri, Usman Hamid dan AE Priyono menambahkan keprihatinan Liddle dengan menunjukkan sejumlah kelemahan demokrasi di Indonesia. Yang lain, Burhanuddin Muhtadi dan Sri Budi Eko Wardani,  menyambut baik tawaran Liddle sambil menyoroti sejumlah prasyarat yang masih harus dipenuhi.

Yang lainnya lagi lebih kritis. Airlangga Pribadi terang-terangan membela pendekatan Marxis. Baginya, tulisan Liddle seperti “Agensi yang Lupa Konteks Strukturalnya.” Ini diperkuat Goenawan Mohamad, yang melihat bahwa “aktor mandiri” adalah “sebuah ilusi” (hlm. 125).

Dalam tanggapan baliknya, Liddle mengelaborasi lebih lanjut gagasannya tentang individu sebagai agen. Dia percaya, “jika diteliti sampai akarnya, yang menggerakkan setiap struktur sosial adalah individu” (hlm. 163). Dan meski sepakat dengan Goenawan bahwa aktor yang sepenuhnya mandiri adalah ilusi, dia tetap yakin akan independensi agen pada kasus-kasus tertentu.

Uraian Liddle dan para komentatornya memberi harapan bahwa kita bisa melakukan sesuatu di tengah ketimpangan sumber daya. Bahwa dunia ini tidak kiamat oleh segelintir elit oligarkis yang membelenggu demokrasi kita. Alat-alatnya, baik berupa teori maupun fakta empiris, tersedia dan bisa dipelajari.

Namun, sementara ketimpangan distribusi sumber daya politik bisa “diakali”, bukankah suatu saat hal itu tetap harus diatasi? Inilah yang masih kurang dielaborasi dalam buku ini. Pendekatan kemampuan Sen dan Nussbaum hanya dibahas sambil lalu, dan pada faktanya juga kurang diperhatikan ekonom.

Tapi ini memang bukan textbook yang merinci teori-teori demokrasi dan kapitalisme. Ia hanya pintu masuk ke dalamnya. Jika betul prihatin dengan kualitas demokrasi di negeri ini, kita wajib masuk ke dalamnya dan dengan sabar menelusuri tiap ruang perdebatannya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.