Irsyad Rafsadie

catatan · penelitian · terjemahan

Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia

Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia

Judul: Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia
Penulis: Samsu Rizal Panggabean
Editor: Titik Firawati & Irsyad Rafsadie
Soft Cover: xxxiv + 244 halaman
Penerbit: Pustaka Alvabet & PUSAD Paramadina (2018)
ISBN: 978-602-6577-39-9

Buku
Suntingan

Mengapa kekerasan terjadi di kota dan kabupaten tertentu di Indonesia tapi tidak di kota dan kabupaten lain? Apakah pemilahan etnis menjelaskan variasi insiden kekerasan? Bertentangan dengan anggapan umum, buku ini menunjukkan bahwa peran dan strategi aktor negara lebih besar dari ciri dan pemilahan kelompok.

Salah satu fenomena penting ketika Indonesia mengalami transisi dari Orde Baru ke Reformasi adalah insiden kekerasan etnis secara geografis terkonsentrasi di 15 kota dan kabupaten. Ada lebih banyak kota dan kabupaten yang tidak mengalami kekerasan etnis, walaupun ada ketegangan. Beberapa faktor mencolok di tingkat nasional, seperti krisis ekonomi dan melemahnya kapasitas negara juga kurang memadai dalam menjelaskan variasi ruang kekerasan etnis di tingkat subnasional.

Untuk menjelaskan variasi tersebut, buku ini meneliti kasus-kasus kota yang mengalami kekerasan (Surakarta dan Ambon) dan yang tidak mengalami kekerasan walaupun ada ketegangan (Yogyakarta dan Manado). Kasus-kasus ini juga mewakili pemilahan terpenting di Indonesia, yaitu Pribumi-Tionghoa di Surakarta dan Yogyakarta, serta Islam Kristen di Ambon dan Manado.

Dengan menggunakan data dari survei dan media lokal, buku ini melakukan penelusuran proses atau process-tracing yang berlangsung di kedua kota, dan menyoroti mekanisme-mekanisme yang dianggap menyebabkan hasil yang berbeda di dua pasang kota.

Dari empat kota kasus yang diamati, hasilnya memperlihatkan kecenderungan yang sama: interaksi strategis antaraktor, yang didesakkan aktor negara, lebih utama dalam menjelaskan variasi insiden kekerasan daripada ciri dan perbedaan kelompok.

“Selama hampir dua dekade, Rizal Panggabean mempelajari konflik etnis dan menuliskannya. Namun, dia melakukan lebih dari sekadar itu: Dia juga memanfaatkan wawasan dari penelitian dan ilmu pengetahuan ini untuk mengakhiri konflik, seringkali dengan melibatkan para pihak dalam konflik yang dia pelajari dan berusaha mendapatkan wawasan dari mereka. Sebagai teman dan rekan penulis, bersamanya selalu menginspirasi saat menyaksikan upayanya yang tak kenal lelah dalam menyelesaikan konflik yang tiada hentinya.”
—Benjamin Smith, University of Florida

“Pertanyaan yang membingkai buku Rizal Panggabean ini sederhana: Mengapa kekerasan terjadi di sebuah tempat dan tidak di tempat lain. Kesederhanaan bingkai studinya menolak berbagai teori konspirasi dan analisis jalan pintas. Dia melihat dengan tajam kejadian di beberapa daerah, dan mencari jawab. Dia bahas juga yang tak terjadi–nirperistiwa–untuk menerangkan yang terjadi. Dari tulisan ini, kita mengerti lebih banyak apa dan siapa yang berkontribusi pada peristiwa kekerasan yang ditelitinya di Surakarta dan Ambon.”
—Sandra Hamid, The Asia Foundation

“Buku ini merupakan bacaan mutlak bagi semua orang yang ingin mencegah atau mengatasi konflik Pribumi-Tionghoa dan Islam-Kristen, jenis-jenis konflik yang hampir pasti akan mengguncang perdamaian politik di Indonesia pada masa depan. Data yang dikumpulkan Rizal Panggabean, ilmuwan politik ternama dari Universitas Gadjah Mada, bersifat orisinal, peka, lengkap, dan cermat. Oleh karena itu, argumen pokoknya, bahwa peran dan strategi aktor negara lebih penting ketimbang ciri dan pemilahan kelompok, amat meyakinkan.”
—R. William Liddle, Profesor Emeritus Ohio State University

 “Buku ini menghadirkan paparan baru mengenai konflik komunal yang merusak proses transisi demokrasi Indonesia. Berbeda dari sebagian besar penjelasan yang hanya fokus pada wilayah-wilayah kekerasan, Rizal dengan cermat membandingkan kota-kota yang damai dan mengalami kekerasan lalu mengajukan penjelasan konflik yang baru: variasi preferensi politis dari aparat keamanan negara. Gagasan-gagasan yang didapat dari Indonesia ini tak ternilai harganya bagi para sarjana perbandingan demokratisasi di seluruh dunia, khususnya yang mempelajari pengaruh transisi rezim terhadap politik etnis.”
—Sana Jaffrey, University of Chicago

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.